Penutupan Layanan CBN Cable Internet (Wed, Jun 4 2014)
  NEWS | TECH |TRAVEL |SHOPPING |ENTERTAINMENT |HEALTH |MAN |WOMAN| MAP |  
 
Hot Topic | Nutrition | Fit & Famous | Work Out | Natural Healing | Health Info | Medical Directory | Narkoba
 
   
Fit And Famous  
 




Senior

Edwin Lau
Kuasai Kulineri, Nutrisi, & Olah Raga

Fit And Famous Tue, 26 Apr 2011 14:46:00 WIB

Ketika pertama kali muncul, Edwin Lau sudah fokus dan memosisikan dirinya sebagai healthy chef alias koki sehat. Chef yang dimaksud di sini adalah tidak semata-mata harus tahu dunia kuliner saja. Lebih dari itu, healthy chef harus paham ilmu gizi dan olah raga. Bahkan, semestinya healthy chef menjadi jembatan antara dokter dan pasien. Mengapa?

Bermodal wajah tampan, Edwin Lau langsung menarik perhatian kala menjadi host untuk program memasak di stasiun televisi swasta. Banyak orang kemudian tertarik dengan pria kelahiran Makassar, 16 November 1982 tersebut.

Selain piawai memasak, lulusan Akademi Pariwisata Pelita Harapan tersebut paham ilmu gizi. Saking pahamnya, Edwin seperti kamus berjalan. Ia bisa berbicara panjang lebar tentang nutrisi.

Pengetahuan akan nutrisi ini juga diterapkan pada dirinya, sehingga tubuhnya pun terlihat sehat. Tak salah kalau kemudian ia disebut sebagai healthy chef.

Berikut wawancara dengan Edwin usai bincang-bincang tentang cokelat di sebuah tempat hiburan anak di Jakarta.

Tanya: Apa itu healthy chef?
Edwin: Healthy chef adalah satu istilah yang muncul saat saya muncul. Healthy chef itu seseorang yang menguasai tiga pilar, yaitu kulineri, nutrisi, dan olah raga.

Kuiineri itu artinya harus bisa masak. Ia juga harus mengerti ilmu gizi meski tidak sekolah ilmu gizi. Istilahnya, bisa belajar secara otodidak. Nutrisi ini bisa dipraktikkan ke tubuh sendiri, sehingga ia belajar dari pengalaman tubuhnya sendiri.

Yang terakhir, healthy chef itu juga harus berperan sebagai seorang trainer. Ia harus mengerti ilmu olah raga, mengerti apa fungsi olah raga bagi anatomi tubuh manusia, mengerti apa fungsi organ di dalam tubuh, otot, tulang. Pokoknya harus mengerti semuanya. Nah, ketika dikorelasikan semuanya inilah yang disebut healthy chef. Healthy chef ini juga menjadi jembatan antara dokter ke pasien. Waktu dokter bilang kamu tidak boleh makan sesuatu, healthy chef akan mengatakan nanti masaknya seperti apa. Hal inilah yang nantinya akan sampai ke pasien.

Kalau dokter bilang pasien harus sering berolah raga, healthy chef akan memberi saran latihan olah raga yang tepat, misalnya latihan kardio ataupun angkat beban. Tanpa healthy chef, tidak ada jembatan antara dokter ke pasien.

Jadi sebenarnya healthy chef itu mediator kesehatan?
Selain itu dia juga harus menjadi inspirator kesehatan. Makanya, moto saya adalah Be Inspired and Be an Inspiration. Kenapa? Orang berubah kalau dia mendapat inspirasi. Orang berubah dari inspirator.

Inspirator bisa menginspirasi orang karena apa yang dikatakan dipraktikkan di badannya sendiri. Orang percaya, sebab melihat inspirator what. Kalau saya gendut, sakit-sakitan, lusuh, atau merokok, mana mau orang percaya saya?

Healthy chef harus melatih dirinya sekeras mungkin supaya bentuk tubuhnya ideal. Dengan kata lain, harus bagus duluan, baru dia bisa menjadi inspirator.

Apakah ketiga pilar dari healthy chef itu dipetajari semuanya?
Yang tidak dipelajari secara otodidak hanya kuliner. Saya benar-benar sekolah. Sisanya saya pelajari secara otodidak. Ilmu gizi saya pelajari saat kuliah. Dulu saya sering ke perpustakaan, berkunjung ke FK UPH, maupun menghadiri seminar kedokteran. Saya juga banyak berteman dengan dokter, mempelajari banyak jurnal, dan beli buku dokter. Itulah yang melengkapi saya. Jadi ketika saya masak dan belajar nutrisi, saya melihat korelasi yang erat, ditambah olah raga.

Untuk olah raga, saya sudah ikut fitness sejak kelas 6 SD. Jadi saya sudah mengerti reaksi badan seperti apa. Pengalaman inilah yang membuat saya sudah bisa punya "logika kesehatan". Orang kalau sakit tertentu dan ditanya makanannya apa, pasti "jebolnya" di situ. Jadi sudah ketahuan.

Healthy chef itu butuh pengalaman. Tanpa pengalaman, dia nggak akan bisa "membaca" orang. Dokter membaca orang berdasarkan analisis tes darah dan pemeriksaan tes fisik.

Kalau healthy chef, dia harus sudah bisa menganalisis, ketika saat bertemu minta diceritakan pola makan sehari-hari, olah raga, riwayat sakit orangtua, dan lain sebagainya, ketika data sudah dikumpulkan dan klop hasilnya, barulah orang tersebut diminta makan dan masak seperti apa. Itu healthy chef.

Bisakah orangtua menjadi healthy chef untuk anak-anaknya?
Tentu saja bisa. Healthy chef tidak mengenal umur. Adalah impian saya juga untuk membentuk healthy chef anak-anak. Bayangkan kalau anak-anak ini sudah fit, rajin olah raga, dan mengerti nutrisi makanan, lalu mereka mengajarkan kepada teman-temannya, pasti sarannya akan diikuti. Terlebih kalau teman-temannya melihat badan si anak ini sehat, plus jago masak pula. Wah!

Ada keinginan mendirikan sekolah untuk mencetak koki sehat?
Tujuan dan mimpi saya itu adalah membuka sekolah healthy chef, yang diharapkan akan mencetak koki sehat selanjutnya. Kapan terwujudnya? Tidak tahu. Mungkin 10-20 tahun kemudian.

Saya ingin membuat sekolah yang belajar seperlunya saja. Basa-basinya nggak perlu diajarkan. Jangan kebanyakan teori. Sebaliknya saya akan ajarkan banyak praktik, teorinya yang benar-benar penting saja. Teori yang nggak penting nggak usah.

Masalahnya, sekolah ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sebab saya harus membuat asrama, membuat berbagai macam dapur untuk aneka jenis masakan, membuat restoran yang sebenarnya, bikin tempat penelitian olah raga. Belum lagi gedung kedokterannya, belajar nutrisi, semua komprehensif. Bisa dibayangkan gedungnya sebesar apa.

Chef yang ada sekarang seperti apa?
Chef di Indonesia terbagi dua, celebrity chef dan professional chef. Chef profesional ada di dapur, chef selebriti ada di televisi. Celebrity chef Indonesia, hampir 90 persen adalah chef yang tidak bisa masak, meski punya tampang. Sementara chef profesional yang ada di dapur Indonesia saat ini adalah orang yang bisa masak, tetapi tidak punya tampang.

Saya adalah tipe orang yang ingin membawa chef profesional ini masuk ke dunia televisi. Saya ingin mendobrak "celebrity chef" yang ada di TV sekarang yang tidak bisa masak tetapi punya tampang, harus move out. Mereka diganti oleh orang-orang yang benar-benar bisa masak, seperti layaknya di Amerika, Kanada, atau Jepang.

Chef selebriti yang ada di sana justru orang yang punya restoran hebat. Mereka juga punya gelar hebat dan pernah ikut kompetisi masak yang luar biasa. Itu yang jadi celebrity chef.

Sementara chef profesional terbagi lagi. Ada yang memang juru masak dan tukang masak. Tukang masak bekerja hanya demi uang. Juru masak memang passion-nya di sana. Tidak dibayar pun mereka tetap mau melakukannya.

Yang punya passionate kuat inilah yang nanti keluar sebagai chef selebriti yang sebenarnya. Dia juga akan keluar sebagai chef profesional sebenarnya.

Saat ini hanya beberapa gelintir orang yang ada di indonesia. Padahal, bakat-bakat ini ada di mana-mana dan mereka masih tergolong muda. Namun, mereka masih tersembunyi di hotel maupun restoran. Itulah mengapa sekolahnya penting. Sekolah ini akan mengekspos mereka keluar.

Chef yang berkualitas seperti apa?
Di Indonesia, chef yang benarbenar qualified dan saya angkat topi kepada mereka adalah seperti William Wongso. Ada juga Oom Yongki yang terkenal di dunia bakery. Saya juga angkat topi dengan chef eksekutif Vindex Tengker dan Ragil.

Yang lainnya adalah Ibu Siska. Menurut saya, sejak kecil sampai sekarang, dia tetap ada di TV. Hebat! Kalau saya bisa mempertahankan profesionalitas seperti Ibu Siska, amazing. Dan bagi saya, yang benar-benar chef selebriti itu adalah seperti mereka.

Alasan di Balik Iklan Mi Instan

Edwin Lau dikenal sebagai healthy chef alias koki sehat. Karena itu, ketika ia muncul di televisi sebagai bintang iklan produk mi instan, banyak orang yang mulai mempertanyakan keabsahan dirinya sebagai koki sehat. Ketika hal ini ditanyakan kepada Edwin, pria asal Makassar ini menjawab, "Alasan lengkapnya, sudah saya tulis di facebook."

Meski demikian, Edwin tetap menjelaskan panjang lebar alasannya mau menandatangani kontrak dengan produk mi instan tersebut. Menurutnya, mi instan yang dibintanginya itu satu-satunya produk yang memiliki sertifikasi ISO 22000 tentang food safety management system (FSMS) atau sistem pengelolaan keamanan pangan. FSMS ini membuat mi instan tersebut aman dikonsumsi karena harus mengikuti beberapa aturan.

Tepung yang dipakai misalnya, harus menggunakan tepung impor dari Australia dengan kadar protein yang lebih tinggi. Lalu, ada aturan penggunaan MSG dengan batasan yang aman untuk dikonsumsi dan pemilihan bumbu. Bumbu yang dipakai harus berasal dari bahan segar yang kemudian dikeringkan.

Kemudian untuk pembuatannya, adonan tepung diuap lalu dikeringkan dengan cara digoreng pada suhu 160 derajat Celsius. Uniknya, minyak yang digunakan, ketika mencapai nilai free fatty acid atau asam lemak bebas yang berbahaya bagi manusia, akan langsung diganti dengan minyak yang baru.

Hal lain yang juga dilihat langsung oleh Edwin saat mendatangi pabrik mi instan sebelum menandatangani kontrak, adalah perusahaan tersebut memiliki kode etik. Selain ISO 22000, perusahaan itu juga memiliki ISO 14000 untuk sistem manajemen lingkungan.

"Itu alasannya kenapa saya mau menjadi iklan mi instan," katanya lagi. Ia juga melihat pilihan mi instan tersebut lebih sehat karena sudah difortifikasi vitamin.

Intinya sih, selama nutrisi makro diperoleh dari makanan alami, dan ingin menyantap sesuatu yang instan, tidak masalah. Namun, pilih produk yang terbaik dan tidak mengonsumsinya secara berlebihan.

Selama seimbang antara pola makan, tidur, dan olah raga,, makan mi instan tidak masalah. "Bagi saya, makan sesekali tidak masalah. Tidak merusak badan karena saya juga berolahraga, menjaga pola makan, dan cukup istirahat," katanya.

Prinsipnya 3B

Sebagai healthy chef, Edwin memberi tip makan sehat. Menurutnya, makan sehat itu haruslah memenuhi pola 3B; berimbang, bergizi, dan beragam.

Berimbang dalam hal nutrisi. "Makanan yang kita makan harus mengandung karbohidrat, protein, lemak. Harus dipilih, karbohidrat harus yang kompleks, protein harus yang kualitas tinggi, lemak esensial, dan seratnya harus lengkap, mencakup yang larut dan tidak larut," papar pemilik badan atletis dengan tinggi 180cm dan berat 76 kg ini.

Selain itu, harus berimbang juga dengan aktivitas fisik. Kalau aktivitas fisik adalah pekerja kantor, kalorinya jangan kebanyakan. Jadi disesuaikan dengan profesinya.

Yang kedua adalah bergizi. "Sebaiknya Anda mengosumsi jenis makanan yang nilai nutrisinya tidak bisa digantikan dengan jenis makanan yang lain," katanya. Contohnya, buah golongan beri. Kelompok ini disebut Edwin adalah buah dengan kandungan antioksidan yang sangat kuat.

Terakhir, makanan yang dipilih haruslah beragam. Semakin banyak jenis makanan yang dikonsumsi akan semakin bagus bagi kesehatan. Tentunya dengan porsi yang tetap berimbang. Ada alasan mengapa makanan haruslah beragam. Karena semua makanan, imbuh Edwin, mengandung nutrisi yang baik. Durian misalnya, tergolong baik, asal tidak berlebihan. Yang penting penempatan waktu, porsi, dan aktivitas, semuanya harus seimbang.

"Jadi menurut saya, selama Anda pegang tiga hal ini, Anda bisa makan apa saja, dan tetap menikmatinya. Jangan sampai hidup sehat itu jadi batu sandungan. Jadi Anda harus enjoy your life," katanya.

Sumber: Senior




Other articles

Mau Setampan & Sebugar Daniel Mananta? Intip Rahasianya!
Mon, 04 Apr 2011 14:45:00 WIB
Intip Rahasia Langsing Gwyneth Paltrow
Tue, 08 Mar 2011 14:45:00 WIB
Jaga Postur Tubuh, Atiqah Hasiholan Rajin Pilates
Tue, 01 Mar 2011 14:45:00 WIB

 

 
Nonblok.com The Globe Journal Fajar.co.id Berita8 dotcom
 
 
40%
kematian di usia muda pada orang dewasa disebabkan oleh kanker


 
Health Tips
 
Mon, 11 Aug 2014 10:41:00 WIB
Cara Murah Meriah Bakar Kalori di Tubuh Tanpa Berolahraga

 
Alternatif
 
Wed, 27 Aug 2014 13:47:00 WIB
Dahsyatnya Kombinasi Madu dan Cuka untuk Obat

 
Natural Healing
 
Mon, 25 Aug 2014 14:31:00 WIB
Maksimalkan 5 Manfaat Lidah Buaya