• Selamat Menunaikan Ibadah Puasa & Perubahan Jam Layanan Selama Bulan Ramadhan   • Pemberitahuan Pengenaan Biaya Administrasi Bank Ekonomi   • CBN Luncurkan CBN iControl, Layanan Internet Sehat dan Aman
  NEWS | TECH |JOB |TRAVEL |SHOPPING |ENTERTAINMENT |HEALTH |MAN |WOMAN| MAP |  
 
Hot Topic | Nutrition | Fit & Famous | Work Out | Natural Healing | Health Info | Medical Directory | Narkoba | Consultation |
 
   
Alternatif  
 




Majalah Nirmala

Obati kanker hati dengan ramuan alami
Alternatif Sat, 28 May 2005 09:24:00 WIB

Betapa bahagianya hati Imardison, karena dia merasa terbebas dari berbagai penyakit yang membelenggu dirinya selama ini. Laki-laki yang tinggal di Labuh Baru Tamoan, Pekanbaru, ini sempat divonis dokter umurnya hanya tinggal beberapa bulan lagi karena tim medis tersebut menyerah terhadap penyakit yang dideritanya. Imardison yang beberapa tahun terakhir menderita beberapa penyakit, dan terakhir tahun lalu dinyatakan dokter mengidap kanker hati (hepatoma) dengan nilai Alpha Feto Protein (AFP) 76.000, padahal ambang normalnya di bawah 15.

"Dokter mengatakan penyakit saya sulit disembuhkan, bahkan tidak ada harapan untuk hidup lebih lama" kata ayah satu anak ini. Dia ditemani isterinya Dety, tak putus asa, terus berupaya berobat ke beberapa rumah sakit besar di Indonesia, bahkan ke RS negara tetangga, Malaka, Malaysia.

"Kami sudah menghabiskan uang cukup banyak untuk mengobati bapak, tapi hasilnya tidak memuaskan. Dia masih tetap kesakitan," ujar Dety.

Dalam keadaan gundah dan sedih tersebut, seorang kerabatnya mengajak Imardison mencoba pengobatan alternatif. Dia pun dibawa berobat ke seorang ahli peracik ramuan tradisional dari berbagai tumbuhan alam, Eep Rusmawan.

"Kami membawa semua hasil laboratorium riwayat penyakit suami kepada Pak Eep, karena itu memang merupakan salah satu syarat agar dia bisa mengetahui apa penyakit yang menimpa pasien," tambah Dety.

Eep yang membuka praktik di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, dan di daerah Garut, Jawa Barat, itu pun mempelajari penyakit yang diidap Imardison, berdasarkan hasil laboratorium.

Setelah menjalani pengobatan rutin selama lima bulan AFP-nya bisa diturunkan hingga 6,5. Imardison pun merasa sakitnya sembuh dan tubuhnya sehat kembali.

"Saya sekarang sudah merasa baikan. Sebelum sakit berat badan saya 76 kg, setelah sakit turun jadi 50 kg. Kini naik lagi jadi 65 kg. Setiap hari saya disarankan minum jus wortel, apel, dan tomat yang dicampur jadi satu. Selain itu tidak ada pantangan makan apa saja," ujar Imardison, 50, mantan pegawai Bank Pembangunan Daerah Riau ini kepada Bisnis pekan ini.

Dia mengatakan sebulan lalu melakukan general check-up kesehatan di sebuah RS internasional di Jakarta, tempatnya sempat dirawat beberapa lama ketika sakit dulu.

"Dokternya heran melihat perkembangan kesehatan tubuh saya, karena penyakit yang saya idap hilang. Padahal dokter itu sudah angkat tangan dulu. Dia tanya saya berobat kemana, ya, saya bilang saja ke pengobatan tradisional," ungkap Imardison.

Lain lagi cerita Hidayat, penduduk Cikoroya, Cianjur, Jabar. Dia mengaku pada 1995 diserang hepatitis C dan sudah menjalani pengobatan medis di rumah sakit, bahkan juga obat alternatif di berbagai tempat.

"Hasilnya tidak menggembirakan. Penyakit saya tetap kambuh," ujar Hidayat belum lama ini. Beruntung ada temannya yang pernah mengidap hepatitis B dan kini sudah sembuh mengajaknya ke pengobatan tradisional yang dilakukan oleh Eep.

Ketika datang dia memperlihatkan hasil laboratorium penyakitnya, SGOT 120, SGPT 590, anti HCV masih positif.

"Setelah dua bulan minum obat yang diberikan H. Eep, SGOT dan SGPT saya normal. Tapi anti HCV saya masih positif. Setelah menjalani pengobatan rutin selama sepuluh bulan, Alhamdulillah anti HCV saya negatif," katanya.

Racikan bahan alam
Eep Rusmawan, warga Garut, Jawa Barat, sudah mempelajari ilmu racikan dari tumbuhan alam sejak dia masih remaja. Kebetulan orangtua angkatnya Yu Cheng Hoo, seorang sinshe yang tinggal di Jakarta.

Dia belajar pengobatan tradisional tersebut selain dari sinshe juga dari buku China kuno yang ditemukannya secara tak sengaja di tumpukan sampah. Isi buku tersebut adalah berbagai macam takaran racikan daun, buah, akar, dan umbi-umbian yang banyak tumbuh di negeri China, serta ada sebagian tumbuh di Indonesia.

Isi racikan yang sudah diolah menjadi kapsul oleh Eep itu, a.l. gingseng, fung cuang, niu huang, temulawak, kumis kucing, soyang, fu shiang, empedu sapi yang mengandung virus, dan bisa laba-laba.
Setelah orangtua angkatnya wafat, Eep pun menjalani sendiri pengobatan tradisional tersebut sejak 1980. Dia terus belajar meramu dan mengkombinasikan berbagai racikan tumbuhan tersebut. Dan terakhir dia menemukan formula untuk pengobatan kanker hati (hepatoma).

Hasil racikannya itu banyak pula diteliti oleh pakar shinse baik dari Indonesia maupun dari luar negeri. Formula-formula dari hasil penelitian yang dilakukannya selama kurun waktu 1960-1980-an itu, kata Eep, telah membuat kagum Prof. Hideji Itokawa dari Tokyo College of Pharmacy.

"Obat lever dan kanker hasil racikan saya, kata Prof. Itokawa, secara medik dapat dipertanggungjawabkan," ujar Eep kepada Bisnis baru-baru ini.

Ramuan tersebut terdiri dari puluhan jenis tumbuh-tumbuhan seperti akar dan daun. Semua bahan tersebut diraciknya sendiri sesuai dengan formula yang dibutuhkan.

Eep menuturkan bahwa Itokawa sendiri selama ini secara rinci dan berkesinambungan tetap meneliti berbagai jenis tumbuh-tumbuhan berkhasiat untuk melawan lever dan kanker.

Dalam menjalani pengobatan ini, Eep bahkan bekerja sama dengan dokter. "Banyak pasien dokter dari rumah sakit yang dirujuk berobat kepada saya, dan Alhamdulillah bisa sembuh," ujarnya tanpa
menyebutkan nama dokter rekanannya itu.

Pasiennya kebanyakan penderita penyakit lever, hepatitis A, B, dan heap C, penyakit kanker rahim dan payudara, dan penyakit dalam lainnya seperti maag, rematik, darah tinggi, dan diabetes.

Terapi yang selama ini dijalankan Eep, walau menggunakan ramuan tradisional, namun dalam menentukan jenis dan kadar obat yang akan diberikannya kepada pasien, ia berpatokan pada hasil test laboratorium pasien yang wajib dibawa setiap calon pasiennya.

"Hasil test laboratorium mutlak diperlukan. Sebab itu adalah hal penting yang menjadi pegangan saya dalam menentukan obat dan ramuan apa yang akan saya berikan kepada pasien," ujarnya. Obat yang diberikan Eep sudah dikemas dalam bentuk kapsul.

Eep mengaku pengobatan yang dijalankannya selama ini sebenarnya lebih didasari aspek sosial dan kemanusiaan. "Tujuan saya yang lebih prinsip adalah agar hasil penelitian saya ini benar-benar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat banyak," ungkapnya. (yr)

Sumber: Majalah Nirmala




Other articles

Mengatasi Batuk Pilek Secara Alami
Thu, 19 May 2005 14:40:00 WIB
Pengobatan Polio Dengan Meditasi
Wed, 11 May 2005 09:11:00 WIB
Ear Candle Center, Vertigo hingga Sinusitis
Mon, 09 May 2005 12:03:00 WIB

 

 
SuaraMerdeka Majalah Lisa Lokasi Fitness PdPersi
 
Agenda
 
September 2010
SMTWTFS
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930
 
 
0.003%
dari seluruh air yang tersedia di bumi yang bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.
(Majalah Area)


 
Health Tips
 
Wed, 01 Sep 2010 14:45:00 WIB
Melawan Lemas Saat Puasa

 
Natural Healing
 
Wed, 25 Aug 2010 15:00:00 WIB
Semangka Kaya Khasiat (Citrullus vulgaris Schrad.)