Kelasi Terapi Alternatif PJK Alternatif Mon, 13 Aug 2007 13:29:00 WIB Pendekatan holistik terhadap suatu penyakit makin banyak diterapkan guna mencapai peyembuhan seutuhnya. Seperti dilakukan Dr. Otto Maulana, yang mendalami terapi kelasi. Lewat terapi ini, pasien-pasiennya terhindar dari bahaya serangan jantung koroner atau stroke. Ia juga menanamkan pentingnya menguba gaya hidup dan pola makan, serta teratur olahraga.
Kelasi berasal dari bahasa Yunani, chele, artinya jepitan udang. Terapi kelasi adalah pengobatan secara intravena menggunakan cairan yang terdiri dan mineral, vitamin, dan asam amino buatan, ethylene diamine tetra acid (EDTA).
"EDTA adalah asam amino yang dibentuk dari protein makanan. Zat ini sangat kuat menarik ion logam berat, termasuk kalsium, dari dalam jaringan tubuh," kata pria kelahiran Bandung, 71 tahun lalu itu.
EDTA dalam terapi ini berupa garam natrium (Na) berbentuk kristal putih, mudah larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol, bersifat lemah, dan dapat mengikat ion logam sesuai aktivitasnya.
"Pemberian EDTA secara intravena dapat mengikat atau menjepit logam berat yang berada pada posisi patologis," ujar Dr. Otto.
Membersihkan Arteri
EDTA dikeluarkan oleh ginjal lebih kurang 95 persen melalui urin, dan sisanya dimetabolisme dalam hati yang dikeluarkan melalui feses. Meski dalam penelitian tidak terbukti EDTA merusak sel hati dan ginjal, saat pemberian terapi ini ia menyarankan fungsi hepar dan ginjal pasien harus baik.
Untuk mengantisipasi kemungkinan terambilnya logam-logam lain, dalam setiap pemberian terapi ini, Dr. Otto memasukkan zat-zat penting, seperti kalium. Walau beberapa kalangan kedokteran kurang sepaham, katanya, secara teoretis EDTA dapat mengubah proses asterosklerosis ke bentuk semula.
Terapi ini pertama kali digunakan Dr. Norman Clarke dari RS Detroit, Amerika Serikat, pada pasien dengan keracunan logam berat, seperti timbal, kadmium, kromium. Setelah dilakukan terapi kelasi, pada observasi selanjutnya para pasien dengan keluhan jantung koroner, gejalanya berkurang. Pasien merasa lebih sehat dari sebelumnya.
Secara khusus, tambah Dr. Otto, tujuan terapi ini untuk menghilangkan dampak pengerasan dinding pembuluh darah nadi yang disebabkan berbagai faktor, termasuk penumpukan kalsium yang salah tempat. Juga baik untuk mengatasi arteriosklerosis yang dapat menimbulkan penyakit jantung koroner (PJK), stroke, atau gangren.
Keuntungan menggunakan terapi kelasi EDTA dialami Endang (52). Ia terbebas dari kelumpuhan setelah mengikuti terapi kelasi sebanyak 6 kali pasca stroke. Tangan kirinya bisa digerakkan dan bicaranya tak lagi Pelo. Padahal saat serangan stroke berlangsung, tangan kirinya sempat lumpuh dan mulutnya mencong.
Prosedur ACAM
Saat praktik terapi kelasi EDTA, Dr. Otto menerapkan prosedur ACAM (American Collage of Advancement in Medicine). Pertama kali pasien datang diminta menjalani serangkaian pemeriksaan laboratorium, EKG, foto rontgen toraks dan diagnosis secara fisik. Hal ini untuk mengeliminasi kontraindikasi yang mungkin terjadi.
Menurutnya, kontraindikasi yang mungkin terjadi adalah gangguan ginjal berat, kehamilan, gangguan hati, tuberkulosis, dan pengapuran. Hal ini karena EDTA akan menarik kalsium pada pengapuran, sehingga bakteri tuberkulosis bakal aktif kembali. Pemberian terapi ini juga akan menarik sebagian logam mineral tubuh.
"Karena itu, selama pengobatan, kandungan logam di tubuh pasien harus selalu dimonitor," ujar mantan direktur RSAL Mintoharjo, Jakarta ini.
Setelah serangkaian pemeriksaan selesai dan surat persetujuan ditandatangani, terapi EDTA dapat dilaksanakan. Caranya, dengan menyuntikkan jarum infus ke nadi pasien. Terapinya bisa dilakukan sambil duduk atau berbaring telentang. Waktu yang dibutuhkan 3-4 jam, dengan infus 40 tetes per menit.
Selain terapi kelasi, kata Dr. Yanih Nuryanih, staf medis di Klinik Dr. Otto, tempat ini juga menawarkan infus cairan sari kedelai, yang biasa disebut terapi plaquex. Terapi plaquex, ujarnya, sangat baik untuk Anda yang mengalami gangguan jantung (calon untuk bypass dan angiosplasty).
Harga yang ditawarkan untuk sekali terapi kelasi Rp 250.000, sedang terapi plaquex Rp 350.000. Menurut Dr. Yanih, biaya tersebut relatif murah bila dibandingkan biaya operasi jantung.
Anjuran Usai Terapi
1. Sesedikit mungkin minum kopi dan alkohol. 2. Sesedikit mungkin mengosumsi makanan berlemak dan mengandung gula. 3. Tidak merokok. 4. Bekerja jangan berlebihan, perbanyak istirahat. 5. Banyak makanan sayuran dan buah-buahan. 6. Olahraga ringan, seperti aerobik, jalan-jalan, naik sepeda, berenang, golf, sedikitnya 3-6 seminggu. 7. Biasakan mengosumsi vitamin C, E, B1, B2, B3, B12 dan mineral lainnya.
Hindari Produk Berkalsium Tinggi
Ada beberapa yang perlu diperhatikan sebelum dan sesudah menjalani terapi kelasi, yakni:
1. Dua hari sebelum hingga hari pemsangan infus, tidak boleh mengosumsi alkohol dan minuman berkarbonasi misalnya soft drink.
2. Pada hari diinfus: - Sebelum terapi harus mengosumsi makanan yane mengandung karbohidrat. - Makan roti, pisang (karena mengandung kalium) dan sari buah untuk menghindari kadar gula yang rendah. - Jangan minum susu atau produk susu seperti keju, karena kalsiumnya tinggi. - Sebelum pemasangan infus dianjurkan buang air kecil terlebih dahulu.
3. Tidak dibenarkan menjalani terapi saat sedang influenza.
4. Pada saat terapi dianjurkan banyak minum, 6-8 gelas air putih sehari.
Terapi Kelasi Jl. Raden Saleh no. 18Y Jakarta Pusat Telp. 021-3900224 Hp. 0816976747
Cabang Bali Jl. Dipenegoro 135-137 Blok 19 Denpasar, Bali
|